Jumat, 21 Juni 2013
Rumah Dome Tahan Gempa - Jogjakarta
Rumah dome terletak di Dusun Nglepen, Prambanan, Sleman. Rumah-rumah merupakan bantuan dari NGO pada saat DIY ditimpa musibah gempa bumi.
Kawasan permukiman Nglepen ini terdapat 80 bangunan dengan desain rumah dome yang dilengkapi fasilitas musholla, rumah kesehatan dan balai pertemuan yang terkadang digunakan sebagai tempat hajatan. Pemukiman tersebut kini dikenal dengan nama New Nglepen.
Keunggulan utama model rumah dome ini tahan terhadap gempa, karena tidak adanya sambungan yang merupakan titik lemah dari bangunan ketika diguncang gempa.
Selain itu rumah dome ini juga mampu menahan terpaan angin hingga yang berkecepatan 450 km/jam, namun karena diadopsi dari model rumah Igloo yang menjadi rumah Suku Eskimo maka di Indonesia yang beriklim tropis kelebihan tersebut tidak terlalu bermanfaat.
Rumah berbentuk bulat ini memang lebih tahan guncangan dan tekanan kuat karena struktur bangunan horizontal dan vertikal menyatu secara utuh. Setiap bagian dinding bangunan saling menyangga saat terjadi tekanan gempa. Bentuk bulat dari rumah dome dibuat dengan cetakan berbentuk balon (airform), kemudian diatas cetakan balon ini dicor beton semen.
Rumah dome terdiri atas dua lantai, luas bangunannya sekitar 38m2. Lantai bawah digunakan untuk ruang tamu, ruang makan, kamar tidur (2 ruang) dan dapur, sedangkan lantai atas digunakan untuk ruang keluarga.
Rumah ini memiliki dua pintu masuk (depan dan belakang), dua pintu kamar, serta empat buah jendela, dua buah di bagian depan dan dua di luar kamat tidur. Pada bagian puncak dome, terdapat ventilasi yang berfungsi untuk mengalirkan udara ke dalam rumah.
Setiap rumah dome hanya dilengkapi dengan sarana saluran air di dapur namun tidak dilengkapi dengan kamar mandi di dalam rumah. Kamar mandi untuk warga disediakan khusus dalam satu bangunan dome berupa MCK komunal tersendiri yang berisi 8 kamar mandi untuk digunakan secara bersama.
MCK komunal tersebut diletakkan di tengah-tengah blok, dan berfungsi melayani sekitar 12 unit rumah yang ada di sekitarnya. Setiap MCK tersebut dilengkapi dengan septictank dan sumur resapan. Air limbah dari dapur yang dibuat di setiap rumah dome akan disalurkan ke sumur resapan komunal melalui jaringan air limbah lingkungan.
Sayangnya kawasan rumah Dome Nglepen ini banyak mengalami kontroversi masyarakat di sekitarnya. Ketidaksesuaian dengan kearifan lokal menjadi pemicu utama mengapa masih banyak rumah yang belum terisi, pembangunan yang tidak mengkomunikasikan kebutuhan masyarakat dinilai kurang memperhatikan aspek sosial-ekonomi-budaya dari masyarakat setempat.
Masyarakat yang sebagian besar petani banyak yang mengeluh lokasi rumah yang jauh dari lahan garapan, sehingga menambah beban masyarakat karena harus berjalan jauh ke tempat kerja.
Tidak adanya kandang ternak yang menjadi fasilitas rumah dome juga menyulitkan masyarakat untuk mengawasi ternak peliharaannya, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah lama agar bisa tetap mengawasi hewan ternaknya.
Jadi walaupun rumah mereka sudah berbeda tetapi mata pencaharian tetap tidak bisa dirubah karena karakter sosial masyarakat sudah terbentuk lama dan sulit untuk tiba-tiba dirubah.
Masyarakat pedesaan identik dengan rumah yang besar dengan halaman yang luas, ketika tiba-tiba terjadi gempa bumi yang meruntuhkan rumah mereka dan mereka harus pindah ke tempat yang sangat kecil dan sempit, mengakibatkan desain rumah ini tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.
Padahal dalam satu rumah terkadang tinggal lebih dari dua keluarga sehingga pembagian ruangnya menjadi sulit, ditambah lagi dapur yang kecil dengan kebiasaan memasak menggunakan kayu tiba-tiba diubah dengan kompor gas menjadi beban penambahan pengeluaran bagi mereka.
Tetapi jika dilihat dari sisi positifnya, rumah Dome Nglepen ini malah menjadi obyek kunjungan wisatawan setelah mereka mengunjungi Candi Prambanan, karena bentuk arsitekturnya yang unik dan jarang ditemui di Indonesia.
sumber:
http://www.fardhani.com/2009/11/28/sekilas-tentang-rumah-dome-tahan-gempa-jogja/
http://www.jogjatrip.com/id/89/kompleks-rumah-dome
http://gedung-2007.blogspot.com/2010/04/rumah-dome-bangunan-anti-gempa.html
http://anggahoed.blogspot.com/2011/04/rumah-dome-tahan-gempa-jogjakarta.html
Kamis, 20 Juni 2013
Jembatan Penghubung Dua Provinsi Terputus
SUKABUMIZONE.COM,SUKABUMI–Jembatan penghubung Kecamatan Bayah, Kabupaten Pandeglang, Banten dengan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terputus akibat diterjang arus Sungai Cikahuripan. “Terputusnya jembatan ini mengakibatkan warga dari Kecamatan Cisolok menuju Banten dan sebaliknya, tidak bisa melintas. Keberadaan jembatan tersebut tentu sangat penting sebab satu-satunya akses terdekat yang menghubungkan dua provinsi di wilayah selatan,” kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo, kepada wartawan.
Jembatan itu juga sebagai akses jalan nasional sehingga terputusnya jembatan yang memiliki panjang sekitar seratus meter tepat di atas Sungai Cikahuripan, tidak bisa digunakan sebagai akses transportasi kedua provinsi.
Menanggapi hal itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi agar secepatnya diperbaiki. “Di Kecamatan Cisolok bencana longsor dan banjir tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi menyebabkan korban jiwa sehingga kami masih melakukan pendataan di lokasi bencana. Dari data yang tercatat satu orang penambang emas di Gunung Buleud Kampung Cibongbong Desa Sukaresmi Kecamatan Cisolok baru ditemukan. korban lainnya terus dicari oleh Tim SAR gabungan, yang menurut informasi tertimbun longsor,” ujarnya
Ditempat terpisah Sekretaris Camat Cisolok, Yeti W Heryati, menjelaskan jembatan itu selain menghubungkan dua provinsi juga menghubungkan dua desa di wilayah Kecamatan Cisolok yaitu antara Desa Cikahuripan dengan Desa Cisolok.
Aktivitas warga terhenti Akibat terputusnya akses itu, seperti berbelanja ke Pasar Cisolok dan kegiatan lainnya. Pihaknya masih melakukan pendataan dengan BPBD dan instansi terkait pada kasus bencana, yang terjadi sejak Senin (10/12).
“Bencana di Kecamatan Cisolok terjadi dibeberapa titik. Kami terus berupaya melakukan pendataan, sebab untuk mengetahui berapa kerugian dan berapa korban jiwa pada bencana ini,” tukasnya
SBR:Ant[1]
[1] http://sukabumizone.com/2012/12/jembatan-penghubung-dua-provinsi-terputus.html
Rabu, 19 Juni 2013
Mitologi Kampung Naga
Orang banyak bertanya-tanya, mengapa kampung kecil di sebuah lembah Desa Neglasari, Selawu, Tasikmalaya itu disebut Kampung Naga? Tak ada keterangan resmi asal-usul nama itu. Para pinisepuh, baik kuncen maupun punduh kampung juga tak tahu persis mengapa kampung kecil diberinama mirip ular raksasa.
Memang ada buku tua berbahasa Sunda kuna tahun 1927. Buku yang belum banyak dipelajari itu dibawa oleh pemerintah Belanda dan dibawa ke Batavia. Namun sampai kini tak dikembalikan. Ada juga barang-barang peninggalan sejarah yang mestinya bisa digunakan untuk mengkaji lebih dalam nilai-nilai metafisika dan sejarah mereka. Namun, semuanya lenyap setelah tahun 1956 pasukan DI/TII yang dipimpin Kartosuwiryo membumihanguskan kampung itu. Satu-satunya benda yang tertinggal adalah sebilah keris dari kuningan. Ternyata, itupun hanya duplikat.
Bukan hanya soal nama, tentang asal-usul mereka pun masih juga terjadi sialng pendapat. Ada yang mengatakan nenek moyang mereka adalah seorang prajurit Mataram yang enggan pulang ke negaranya karena kalah perang. Yakni, ketika pasukan Mataram gagal menaklukkan kompeni (Belanda) di Batavia tahun 1916. Kemudian, membangun perkampungan yang kini terkenal dengan sebutan kampung Naga itu. Pendapat ini didasarkan kenyataan bahwa sekitar 40 km, tepatnya di daerah Cangkuang ada kampung yang semua penduduknya keturunan prajurit Mataram.
Kerajaan Galuh Pasundan
Namun, pendapat ini mendapat penolakan. Terutama dari masyarakat Kampung Naga sendiri. Menurut mereka, penduduk asli Kampung Naga merupakan keturunan asli suku Sunda. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari Kerajaan Galuh Pasundan. Sebelum membangun pekampungan di lembah subur Desa Neglasari mereka tinggal di lereng-lereng Gunung Galunggung.
Ketika itu, mereka masih primitif dan tinggal di atas pohon-pohon besar untuk menghindari serangan binatang-binatang buas seperti singa dan sebagainya. Karena itu, seperti yang terlihat sekarang, rumah mereka selalu terbuat dari kayu dan berbentuk rumah panggung. Mesti tidak tinggi seperti rumah panggung umumnya, namun lantai mereka selalu terbuat dari papan dan berada sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Di bawah lantai rumah itu, dipelihara berbagai jenis binatang ternak. Utamanya ayam.
Sedang untuk ternak-ternak besar seperti kerbau dan lembu dipelihara di tempat terpisah. Yakni di depan perkampungan sebelah kiri dekat dengan dua kolam massa yang sejak dulu tak pernah berubah. Mana yang benar? Pengakuan warga Kampung Nagalah yang rupanya layak dipercaya. Itu jika dikaitkan dengan kenyataan sejarah bahwa hubungan antara masyarakat Tasikmalaya dengan Galunggung begitu erat. Bahkan hubungan itu sudah terjalin sejak berabad-abad yang lampau.
Terbukti dari referensi yang ditemukan tim sejarah yang diberi tugas untuk menentukan hari jadi Kabupaten Tasikmalaya. Kesimpulannya, sangat sulit mencari ketidakharmonisan budaya antara masyarakat Tasikmalaya dengan gunung yang terkenal dengan letusannya pada April 1982 itu. Tentu, hubungan tersebut menjadi makin kental jika pembahasaan jika dilakukan dengan kajian metafisis.
Menurut Risman (44), Ketua RT Kampung Naga, penduduk di kampungnya memang asli orang Sunda. Nenek moyang mereka yang kini dimakamkan di bukit sebelah Barat kampung bernama Sembah Dalem Singaparna. Dinamakan Singaparna karena ia dapat menaklukkan singa yang sedang mengamuk dengan kesaktiannya. Namun Singaparna lebih dikenal sebagai seorang ulama sakti.
Ia memiliki 6 anak laki-laki yang kesemuanya diwarisi ilmu linuwih. Pertama, RD Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti. Tokoh yang ini dikenal dengan ilmu kebal yang diwarisi dari Sembah Dalem Singaparna. Setelah meninggal, dia dimakamkan di daerah Teraju, Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian, Ratul Incung Kudratullah. Ia dimakamkan di Karangmanunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dikenal dengan Eyang Mudik Batara Karang karena mewarisi kebedasaan (kekuatan fisik yang luar biasa).
Ketiga, Pangeran Mangku Bawang. Ia mewarisi kekayaan duniawi. Dimakamkan di Mataram (Yogyakarta). Berikutnya adalah, Sunan Gunung Kalijaga. Dimakamkan di daerah Cirebon. Ia mengembangkan agama Islam di wilayah ini dengan pendekatan masyarakat agraris kerana ia mewarisi ilmu pertanian yang luar biasa.
Kelima, adalah Sunan Gunung Komara, Ia diwarisi kepandaian dan kejujuran. Kemudian, Sunan Gunung Komara menyebarkan agama Islam di Banten dan meninggal di sana. Makamnya kini berada di daerah Banten. Yang terakhir adalah, Pangeran Kudratullah. Ia mewarisi ilmu agama yang demikian mendalam. Selanjutnya, menyebarkan agama di daerah Garut, Jawa Barat hingga dimakamkan di sana.
Sumber:
http://ekorisanto.blogspot.com/2009/07/mitologi-kampung-naga.html
Pantang Adat Warga Kampung Naga
Bagi masyarakat Kampung Naga, menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para karuhun (leluhur). Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Bila hal itu dilanggar, diyakini bakal timbul malapetaka.
Masyarakat Kampung Naga masih memeluk keyakinan animisme. Misalnya percaya adanya mahluk halus semisal jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam atau leuwi. Mereka juga percaya ada ririwa, yaitu mahluk halus yang senang menganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari. Mereka pun yakin ada yang disebut kunti anak, yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, yang suka mengganggu wanita melahirkan.
Tempat-tempat yang dihuni mahluk halus, disebut masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi agueng dan mesjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.
Pantang Adat
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga, masih dilaksanakan dengan patuh. Terutama pantang adat yang berkenaan dengan aktivitas kehidupan. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah, pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.
Misalnya soal bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, dengan bahan dari bambu dan kayu. Atap dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Lantai rumah terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah pun diharuskan menghadap ke utara atau selatan dengan memanjang ke arah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedong.
Isi rumah juga tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Selain itu, rumah tidak boleh mempunyai pintu dari dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk ke dalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.
Selain itu, pada hari selasa, rabu, dan sabtu warga Naga dilarang membicarakan adat-istiadat dan asal-usul mereka. Mereka sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sebuah daerah yang bernama Singaparna di Tasikmalaya, mereka sebut Galunggung, karena kata Singaparna berdekatan dengan Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga.
Masyarakat Kampung Naga juga mempercayai bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan. Misalnya batas sungai, batas pekarangan rumah dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan, lereng bukit, tempat antara perkampungan dengan hutan, dan sebagainya. Daerah yang saling berbatasanitu diyakini dihuni mahluk-mahluk halus dan dianggap angker atau sanget. Karenanya, di tempat itu masyarakat suka menyimpan sasajen.
Sumber:
http://ekorisanto.blogspot.com/2009/07/pantang-adat-warga-kampung-naga.html














